BI Corner Lecture Series 7

BI Corner Lecture 7

Acara BI Corner Lecture 7 diadakan hari Jumat 2 Maret 2018 di Ruang Baca BI Corner. Acara ini diisi oleh Anif Affandi, S.E dengan tema “Strategi Bank Indonesia Dalam Melaksanakan Kebijakan Makroprudensial”. Adapun materi yang dibawakan adalah sebagai berikut:

Gejolak perekonomian global dan domestik di tahun 2015, yang berlanjut ke triwulan I 2016 telah membawa pengaruh pada kondisi sistem keuangan Indonesia. Bank Indonesia telah merespon situasi tersebut dengan kebijakan makroprudensial yang terukur, terintegrasi dan bersinergi dengan kebijakan di bidang moneter dan sistem pembayaran. Tujuannya agar perekonomian nasional tetap dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan. Bank Indonesia telah menerapkan kebijakan tersebut, yaitu dengan cara :

  1. Loan To Value Ratio (LTV) untuk KPR dan Down Payment (DP) KKB.

Tujuan: meredam resiko sistemik yang mungkin timbul akibat pertumbuhan KPR yang pada saat itu mencapi lebih dari 40%, serta tingkat kegagalan nasabah KKB untuk memenuhi kewajiban yang pada saat itu mencapai hamper 10%

  1. Giro Wajib Minimum (GWM) berdasarkan Loan to Deposits Ratio (LDR)

Tujuan: meningkatkan ketahann sektor perbankan dalam menghadapi berbagai resiko, khususnya terkait dengan resiko kredit dan likuiditas. Sehingga dapat mendukung stabilitas system keuangan sekaligus stabilitas moneter melalui penguatan peran intermediasi bank.

  1. Countercyclical Buffer

Countercyclical Buffer adalah tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi pertumbuhan kredit dan/atau pembiayaan perbankan yang berlebihan sehingga berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan. Salah satu tujuan kebijakan Countercyclical Capital Buffer (CCB) adalah untuk mencegah timbulnya dan/atau meningkatnya risiko sistemik yang berasal dari pertumbuhan kredit yang berlebihan (excessive credit growth). Hal ini terkait dengan perilaku prosiklikalitas penyaluran kredit perbankan yakni meningkat saat periode ekonomi ekspansi (boom) dan melambat pada periode ekonomi kontraksi (bust). Kebijakan CCB perlu untuk diimplementasikan di Indonesia karena adanya perilaku prosiklikalitas antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan ekonomi.

Dokumentasi acara :